Apakah Bencana Suhu Panas India akan Menyerang Indonesia?

01.17 Add Comment

Suhu Udara Panas Indonesia
Dikaji secara ilmiah, gelombang suhu panas di India memang normal terjadi. Antara bulan Maret dan Juni memang menjadi periode perubahan kenaikan suhu udara di atas batas normal. Namun bedanya, bencana gelombang suhu panas tahun ini terjadi lebih parah ketimbang beberapa tahun sebelumnya. Tercatat kenaikan suhu panas yang siginifikan, terik panas matahari di waktu siang mencapai 45 bahkan hingga 50 derajat celcius
Dua minggu terakhir, gelombang suhu panas hingga 50 derajat celcius membawa suasana mematikan di wilayah India bagian selatan. Hingga tulisan ini diturunkan, sudah lebih dari 2 ribu penduduk India tewas karena suhu panas yang membubung di atmosfer India. Rata-rata sebagian besar penduduk India yang tewas merupakan warga miskin yang tak memiliki rumah dan akses akan kesehatan yang baik.
Menurut catatan sejarah kebencanaan India, bencana gelombang suhu panas di India pada 2002 hingga 2003 lalu juga telah membunuh ribuan jiwa. Sama halnya dengan bencana suhu panas yang melanda New Delhi di pertengahan tahun 2010 yang menewaskan sedikitnya 300 jiwa.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan BMKG, Edvin Aldrian dikutip dari laman National Geographic mengungkapkan bahwa penyebab utama bencana suhu panas India adalah angin panas dari padang pasir di wilayah Iran dan Afghanistan yang berpindah melalui laut Arab. Angin panas tersebut berhembus dari barat ke timur dan tertahan akibat Pegunungan Himalaya yang menjulang. Akibatnya angin bersuhu panas dan gersang tersebut tertahan di wilayah India.
Lantas, apakah bencana suhu panas tersebut dapat menyentuh kawasan langit Indonesia?
Mengutip pernyataan Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG, A. Fachri Radjab yang disadur dari laman detik.com menegaskan bahwa gelombang panas India kecil kemungkinannya akan melanda wilayah atmosfer Indonesia.
Fachri mengatakan bahwa tak ada indikator perubahan atmosfer di Indonesia yang akan memicu gelombang panas seperti di India. Namun bukan berarti Indonesia tak memiliki risiko gelombang panas, sebentar lagi wilayah Indonesia akan memasuki fase musim kemarau mulai pertengah tahun hingga bulan September atau Oktober.
Fenomena bencana alam kekeringan dan kebakaran lahan akan jamak terjadi menjelang memasuki musim Kemarau. Kewaspadaan masyarakat yang berada dalam wilayah rawan kekeringan harus sudah dipersiapkan semenjak dini. Setidaknya hingar-bingar bencana kematian akibat gelombang suhu panas di India menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia.
Kenyataannya, semua tingkah laku alam termasuk suhu udara yang panas pun dapat menjadi amat mematikan bagi kesehatan raga. Apalagi bagi masyarakat yang tinggal dalam wilayah kemarau ekstrim. Suhu udara yang panas akan mematikan bagi manusia apabila dirasakan oleh tubuh yang mengidap gangguan kesehatan seperti penyakit jantung, atau dehirasi. (ijal)
Sumber

Risiko Bencana Gempa Bumi Mengintai Padang

01.16 Add Comment

Gempa Padang
Tiga Puluh September 2009, Sumatera Barat bergetar hebat. Guncangan sebesar 7.6 skala richter tercatat dalam seismograf di wilayah barat Sumatera. Bencana gempa bumi membawa malapetaka seketika. Kerusakan parah menghampar di beberapa wilayah Sumatera Barat. Sepanjang Kota Padang, Kabupatan Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat terdampak paling parah gempa yang terjadi menjelang waktu senja ini.
Tercatat seribu seratus tujuh belas jiwa melayang akibat gempa Sumatera Barat 2009 silam, mayoritas tewas akibat buruknya kualitas bangunan tahan gempa di wilayah Sumatera Barat. Satkorlak Penanggulangan Bencana kala itu merilis data 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, dan 78.604 rumah rusak ringan.
Sisi barat Sumatera Barat, tersaji fenomena alamiah aktivitas seismik yang berlangsung sangat aktif. Beragam segmen patahan antara lain megathrust Sunda dan megathrust Mentawai menunjam ribuan kilometer menyusuri pantai barat Sumatera, terjadi akibat tabrakan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia yang terus bergerak tiap tahunnya.
Nyatanya memang sepanjang garis pantai barat Sumatera Barat merupakan lokasi masif berkumpulnya energi hebat akibat tumbukan lempeng yang mengakibatkan beberapa patahan aktif, antara lain patahan Mentawai.
Para ahli bencana gempa bumi meyakinkan bahwa Sumatera bagian barat memiliki banyak titik Seismic Gap yaitu lokasi dalam aktivitas seismik aktif namun sunyi tanpa aktivitas gempa hingga ratusan tahun. Lokasi titik seismic gapini nyatanya justru paling mengancam, karena sedang mengumpulkan energi hasil tumbukan lempeng selama ratusan tahun, dapat terlepas kapanpun. Sesuai dengan siklus yang sudah disepakati di Pantai Barat Sumatera, yaitu 200 tahun sekali.
Terakhir, lokasi seismic gap yang bergejolak dan menimbulkan gempa dahsyat di Sumatera bagian barat terjadi pada 25 November 1883. Kala itu, episentrum gempa di lepas pantai barat Andalas pecah dan meretakkan Palung Sumatera sepanjang 1000 km, menghasilkan bencana gempa bumi masif berkekuatan 8,8 hingga 9,2 skala richter.
Para ahli bencana meyakini bahwa zona Subduksi Mentawai di lepas pantai Sumatera Barat memiliki perulangan siklus 200 tahunan. Titik megathrust tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia terbentang dari Andaman, Aceh, Nias, Selat Sunda, Jawa, Bali, dan Lombok.
Sejauh ini, titik megathrust di Aceh sudah melepaskan energi besarnya yang menyebabkan bencana tsunami dahsyat di Aceh 2004 silam, Nias dan Bengkulu pun sudah melepaskan energinya. Tinggal menunggu segmen Mentawai yang masih diam menyimpan tingkat energi dahsyat.
Senada dengan kenyataan tersebut, seperti yang dikutip penulis dari portal Liputan6.com, Presiden Geohazard (sebuah lembaga non profit di Amerika yang bergerak dalam bidang pengurangan risiko bencana) Brian Tucker, mengatakan bahwa bukti yang paling kuat untuk prediksi gempa bumi selanjutnya setelah gempa Nepal adalah mengarah ke lepas pantai Sumatera. Energi yang tersimpan di patahan Sumatera bagian barat masih banyak yang berlum terlepas. Pelepasan energinya setara dengan 8,8 hingga 8,9 skala richter. (ijal)
Sumber

Patahan Cimandiri dan Ancaman Bencana Gempa Bumi di Jawa Barat

01.15 Add Comment

cimandiri-sesar
Nama Sesar Cimandiri atau Patahan Cimandiri mungkin tak setenar Sesar Opak yang menjadi penyebab utama bencana gempa bumi dahsyat yang mengguncang Yogyakarta 2006 silam. Lantas apa itu Sesar Cimandiri? Seberapa besar dampaknya bagi risiko bencana gempa bumi di Pulau Jawa bagia barat?
Sesar Cimandiri, adalah sebuah patahan yang garis patahannya memanjang dari barat ke timur wilayah Sukabumi bagian selatan. Bentuk morfologinya terekam dalam bentangan Teluk Pelabuhan Ratu hingga selatan Kota Sukabumi berupa kelurusan sepanjang lembah Cimandiri. Jejak patahan sesar ini memang belum dikaji lebih dalam, namun potensi dan risiko terburuknya akan ancaman bencana gempa bumi tetap harus diwaspadai.
Para peneliti mengindikasikan bahaya risiko bencana gempa bumi sepanjang jalur patahan Cimandiri ini. Melihat catatan sejarah kebencanaan gempa bumi yang terjadi sejak awal abad 19 menunjukkan bahwa Sesar Cimandiri bertanggung jawab terhadap gema bumi Pelabuhan Ratu (1900), gempa bumi Cibadak (1973), gempa bumi Gandasoli (1982), gempa bumi Padalarang (1910), serta gempa bumi Sukabumi (2011)
Menurut penelitian awal yang dirilis oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 2006, Sesar Cimandiri terbagi dalam lima segmen, yaitu segmen 1 antara Cimandiri Pelabuhan Ratu-Citarik, Segmen 2 Citarik-Cadasmalang, segmen 3 Ciceureum-Cirampo, segmen 4 Cirampo-Pangleseran, dan segmen 5 Pangleseran-Gandasoli.
Pergerakan sesar ini tercatat bergerak 4 hingga 6 mm per tahun dengan bentuk patahan yang bergeser ke kiri (left lateral). Pergeseran sesar yang bergerak ke arah samping ini untungnya hanya berpotensi menimbulkan bencana tsunami dalam skala kecil, mengingat salah satu penyebab utama bencana tsunami adalah pergerakan sesar naik/mengarah ke atas.
Terkait dengan ancaman bencana gempa bumi di Jawa Barat, Sesar Cimandiri memiliki risiko pergerakan dengan sesar Lembang. Pakar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja seperti yang dikutip dari laman Bandung.eu mengatakan bahwa ada ancaman gempa besar mengguncang cekungan Bandung apabila terjadi pergerakan besar di Sesar Cimandiri dan Sesar Lembang.
Sesar Lembang adalah sebentuk patahan lain yang mengisi aktivitas seismik di wilayah Jawa Barat. Sesar lembang jika dijelaskan secara sederhana adalah patahan akibat tubrukan antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia yang menjajar dari wilayah Cisarua, Bogor hingga ke Gunung Manglayang di wilayah Bandung Utara.
Tampak muka sesar Lembang dapat dideteksi dari bentuk tebing batu yang berdiri kokoh di kawasan Bandung Utara. Tebing yang sekarang menjadi lokasi wisata Bandung Utara ini sejatinya adalah sebuah patahan lempeng bumi. Dapat bergerak kapanpun bahkan bersamaan dengan pergerakan Sesar Cimandiri di Sukabumi dan memicu ancaman gempa bumi skala besar di sebagian kota Jawa Barat: Sukabumi, Bogor, Bandung, dan Cimahi. (ijal)
Sumber

Sejarah Bencana Letusan Gunung Galunggung Tasikmalaya

01.15 Add Comment

Gunung Galungung TasikMalaya
Tak dapat disangkal, Pulau Jawa merupakan Pulau cincin api. 45 gunung berapi aktif tersebar di pulau Jawa, perhitungan tersebut tidak termasuk 20 kawah dan kerucut kecil di kompleks vulkanik Dieng dan kerucut muda di kompleks kaldera Tengger. Ratusan kali sejarah bencana letusan gunung berapi pernah tercatat oleh ahli vulkanik dunia. Mulai dari Merapi sebagai salah satu gunung paling aktif di dunia, gunung Selamet, Gunung Mahameru, hingga gunung Kelud yang belum beberapa lama lalu meletuskan isi dapur vulkaniknya.
Namun tahukah Anda gunung meletus di Pulau Jawa yang dampak letusannya kala itu mendunia? terkenal hingga ke Eropa? Terutama negara Inggris?
Namun, menurut Kepala Ahli Geologi Indonesia, A Djumarma Wirakusumah seperti yang dikutip dari Portal Okezone menceritakan bahwa volume air yang besar di atas kawah Gunung Galunggung memberikan potensi bencana yang lebih mematikan. Menurutnya, jika Gunung Galunggung meletus lagi, maka 7.8 ton meter kubik air yang berada di kawah akan mendidih karena aliran lahar di bawahnya. Ketika suatu waktu nanti bencana letusan Galunggung terjadi lagi, maka air mendidih di kawah tersebut akan membawa jangkauan material lahar lebih mematikan.
Oleh sebab itu, Djumarma menambahkan bahwa hingga saat ini, proses pengurangan volume air di kawah Galunggung terus dilakukan dengan mengalirkan air melalui terowongan buatan yang membuang aliran airnya ke sungai Cikunir.
Usaha tersebut dilakukan untuk tetap menjaga risiko ancaman bencana letusan Galunggung sekecil mungkin terhadap perkampungan di sekitar Galunggung. Seperti yang diketahui, Gunung Galunggung serupa dengan gunung api lain di wilayah Pulau Jawa, terletak di antara banyak perkampungan atau pemukiman padat penduduk. Kepadatan penduduk ini yang menaikkan level risiko bencana gunung meletus hingga ke titik maksimum.
Adalah Gunung Galunggung, salah satu gunung api yang berada di wilayah Jawa Barat. Kala itu bencana letusan Gunung Galunggung di April 1982 hingga 8 Januari 1983 menyebabkan satu pesawat super jumbo Boeing 747 milik British Airways nomor penerbangan BA-9 tujuan London-Auckland, Australia harus mengalihkan pendaratannya ke Bandara Halim Perdanakusumah. Pengalihan pendaratan tersebut terpaksa dilakukan akibat keempat buah mesinnya mati total karena menghisap abu vulkanik akibat bencana letusan Galunggung. Kejadian fatal mesin pesawat mati terjadi ketika Boeing jumbojet tersebut terbang melintasi wilayah selatan Gunung Galunggung.
Bencana letusan besar pada skala 4 VEI (Volcanic Explosivity Index) di Awal Mei tahun 1982 menjadi malapetaka bagi wilayah sekitar Galunggung. Melingkupi Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu, dan Kecamatan Leuwisari dan beberapa Kecamatan lain di Kabupaten Tasikmalaya. Selama 9 bulan periode bencana letusan Galunggung, 18 orang tewas, kerugian milyaran rupiah, dan puluhan desa ditinggal begitu saja tanpa penghuni.
Kala itu, bencana letusan tahun 1982 yang berlangsung tak berhenti hingga 9 bulan lamanyamenghancurkan kubah lava yang sudah membuntal sejak letusan di awal abad 19. Akibat letusan tersebut, kemudian muncul air yang membentuk danau besar di atas kawah Galunggung, kawah air panas inilah yang sekarang menjadi objek wisata utama Gunung Galunggung. (ijal)
Sumber

Menilik Potensi Risiko Bencana Alam Kalimantan

01.14 Add Comment

Kebakaran Hutan Kalimantan
Pulau Kalimantan, salah satu Pusat Industri Tambang di negeri ini. Ditilik secara Geografis, Kalimantan memang menjadi satu wilayah di Indonesia yang hampir tak tersentuh oleh potensi kerawanan bencana alam akibat aktivitas seismik dan vulkanis. Faktanya Kalimantan adalah satu Pulau Besar yang berdiri di atas Lempeng Eurasia. Tak memiliki patahan atau sesar yang aktif bergerak di bawah permukaannya.
Ketiadaan satu pun gunung api di Kalimantan pun makin membuktikan bahwa lintasan gunung api tak mencapai Pulau Kalimantan. Hanya ada beberapa gunung tak begitu tinggi seperti Gunung Bukit Raya, Gunung Liangpran dan deretan Pegunungan Kapuas Hulu, Muller, Schaner di Kalimantan Barat.
Kalimatan pun dikenal sebagai pulau dengan ribuan sungai. Rangkaian aliran sungai yang panjang dan lebar yang melintasi kota-kota di Pulau Kalimantan seperti Sungai Mahakam, Kapuas, Barito, Martapura, membawa ancaman bencana banjir bandang.
Namun, kondisi minim aktivitas seismik dan vulkanik ini bukan berarti melepaskan Kalimantan dari ancaman bencana alam. Pulau yang kaya akan sumber daya energi dan mineral seperti batu bara, minyak, gas bumi dan batu alam ini memiliki ancaman bencana alam dalam bentuk lain, yaitu: bencana banjir, kebakaran hutan, lahan, dan pemukiman, angin kencang atau puting beliung, kekeringan, dan tanah longsor.
Salah satu Provinsi yang mencatat ancaman banjir adalah Kalimantan Selatan. Catatan pemerintah Kabupaten Banjar, Kalsel menunjukkan bencana banjir yang terjadi sejak awal 2012 melanda 8 kecamatan dan merendam 100 desa, mengakibatkan 11.576 KK di Kalimantan Selatan harus mengungsi karena bencana banjir.
Banjir akibat luapan Sungai Riam Kanan dan Riam Kiwa di Kalsel pun sempat menggenangi area persawahan seluas 562 hektare, merendam perkebunan seluas 144 hektare, 22 puskesmas, dan 64 sekolah pada April 2015 lalu
Catatan singkat tersebut menjadi peringatan bahwa Pulau Kalimantan pun tak terlepas oleh ancaman bencana akibat wujud kerusakan alam dan tingkah laku alam yang tak dapat dibendung.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada 2010 lalu pernah mendaftar ancaman risiko bencana banjir di Kalimantan, antara lain adalah kota Bengkayang, Kapuas Hulu, Ketapang, Pontianakn, Singkawang, Sintang (Kalimantan Barat). Kota Waringin Timur (Kalimantan Tengah). Banjar, Barito Kuala, Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Bulungan, Tarakan (Kalimantan Timur).
Selain itu, besarnya luasan area hutan, dan perkebunan di Pulau Kalimantan pun membawa ancaman bencana kebakaran lahan. Menurut catatan BNPB yang tercantum pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014, seluruh Provinsi di Kalimantan memiliki risiko yang sama terkait ancaman kebakaran lahan. Pembukaan lahan dengan cara membakar hutan apalagi di kala memasuki musim panas akan memicu kebakaran. Seperti yang terjadi pada akhir 2014 silam, ketika si api merah mengamuk dan melahap lebih dari 35 hektare kawasan hutan di jalur lintas Kalimantan Timur. Akibatnya asap tebal membubung sepanjang jalur Samarinda dan Balikpapan. (ijal)
Sumber

Sejarah Bencana Gempa Bumi dan Tsunami Kota Palu

01.13 Add Comment

Sejarah Gempa Palu
Bagi warga Kota Palu dan sekitarnya, Mempelajari aktivitas kebencanaan dan membincangkan urusan antisipasi dan kesiapasiagaannya dapat dilakukan sedini mungkin mulai dari menilik catatan sejarah yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Berikut adalah catatan sejarah bencana gempa bumi dan tsunami dahsyat yang pernah meluluhlantakkan wilayah Kota Palu dan sekitarnya.
Kota Palu, Sulawesi Tengah menjadi wilayah di Indonesia Timur yang berada dalam jalur rawan gempa bumi dan tsunami. Bentangan permukaan alam di Palu, Parigi Moutong, dan sekitarnya yang berbukit dan gunung-gunung merupakan bukti fisik betapa aktifnya aktivitas seismik di bawah permukaan kota Palu.
Struktur batuan penyusun di bawah kota Palu pun pada umumnya terbentuk oleh satuan batuan berumur dari zaman pra tersier. Batuan zaman sebelum tersier relatif sudah lapuk dan mudah mengalami perubahan susunan. Hal inilah yang menyebabkan efek guncangan gempa di Kota Palu dapat sangat terasa walaupun kekuatan gempanya mnim.
Catatan pertama adalah gempa bumi dan tsunami Palu pada 1 Desember 1927. Kala itu, gempa dangkal yang belum sempat tercatat magnitudonya mengguncang wilayah Teluk Palu akibat pergerakan sesar Palu Koro. Guncangan gempa dahsyat ini menjalar hingga ke wilayah timur Palu sejauh hingga 230 km dari episentrum. Selain kerusakan masif, gempa ini pun memicu gelombang tsunami setinggi 15 meter. Berdasarkan catatan dari berbagai sumber, populasi penduduk yang masih sedikit tak berdampak mematikan, gempa dan tsunami dahsyat yang sempat meluluhlantakkan Pelabuhan Talise di Teluk Palu ini “hanya” mengakibatkan 15 orang tewas dan 50 orang luka-luka
Kejadian gempa bumi dan tsunami kedua yang menerjang Pulau Sulawesi di awal abad 19 terjadi pada 20 Mei 1938. Kejadian gempa bumi ini lebih dahsyat dibandingkan pada bencana gempa bumi di tahun 1927. Kala itu, guncangan bahkan dirasakan menjalar hingga ke seluruh wilayah daratan di Pulau Sulawesi dan bagian timur Pulau Kalimantan. Kawasan Teluk Kota Parigi Moutong di Timur Kota Palu menjadi lokasi yang paling hancu terdampak bencana. Tsunami menggulung wilayah Parigi, merobohkan 900 lebih rumah warga dan menewaskan 16 orang di pesisir Parigi. Dermaga, Mercusuar, dan Pohon Kelapa di pesisir Parigi hancur total terhempas tsunami akibat patahan di dasar laut.
Catatan berikutnya terjadi pada 14 Agustus di tahun 1968. Gempa bumi sebesar 6.0 skala richter kembali mengguncang akibat patahan Sesar Palu Koro. Memicu tsunami setinggi lebih dari 10 meter dan menewaskan sedikitnya 200 orang. Menurut berbagai catatan, bencana tsunami yang terjadi menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia ini melaju sejauh 500 meter dari garis pantai Kota Tambu, Sulawesi Tengah. (ijal)
Sumber

Ini Jalur Gempa Bumi di Sulawesi yang Harus di Waspadai

01.12 Add Comment

Gempa Sulawesi
Selama ini, media lokal begitu sering membicarakan kejedian bencana di wilayah Pulau Jawa dan Sumatera. Nyatanya memang kejadian bencana mematikan di negeri ini rutinnya terjadi di dua pulau utama itu. Namun, fakta menunjukkan bahwa Indonesia dikelilingi oleh sedikitnya tiga lempeng aktif yang terus bergerak di bawah permukaan negeri. Lempeng-lempeng bumi tersebut tak hanya menjajar dari Sumatera dan Jawa saja. Patahan lempeng Indo-Australia dan Eurasia bergerak terus ke timur hingga “Kepala Burung” Papua dan membelok ke Utara ke arah Maluku, dan Sulawesi.
Kota Palu, di Sulawesi Tengah menjadi salah satu Kota yang amat rentan akan ancaman bencana gempa bumi. Catatan terakhir pada 2006, Kota Palu dan sekitarnya diguncang gempa bumi dengan kekuatan 6.3 pada skala richter. Lokasinya berapa pada 40 km barat daya kota Palu dengan kedalaman gempa yang dangkal, sekitar 10 km.
Belum beberapa lama pula, 2011 silam, Kota Palu kembali digoyang oleh pergerakan patahan lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Kala itu, BMKG mencatat bencana gempa bumi sebesar 5.1 skala richter pada kedalaman 23 kilometer di bawah permukaan bumi
Wilayah Sulawesi Tengah hingga Selatan memang terbentuk oleh pergerakan aktivitas seismik yang aktif. Berdasar pada catatan penulis yang disadur dari berbagai sumber, sedikitnya ada tiga sesar atau patahan yang akan memantik ancaman bencana alam gempa bumi di sekitar wilayah Kota Palu hingga Sulawesi Selatan.
Pertama adalah Sesar Palu Koro, patahan ini menjalar dari Palu melalui Sulawesi Selatan bagian utara menuju Selatan Bone hingga ke Laut Banda
Lalu yang kedua adalah sesar Saddang, yang bergaris dari pesisir pantai Mamuju Sulawesi Barat memotong diagonal melintasi daerah Sulawesi Selatan bagian Tengah lalu Sulawesi Selatan bagian Selatan, kota Bulukumba hingga ke Pulau Selayar bagian Timur.
Pulau Sulawesi, pusat peradaban Indonesia Timur. Gerbang utama modernitas di wilayah Indonesia bagian timur. Secara geologis nyatanya memang pulau Sulawesi memiliki bentuk muka bumi yang berbukit, banyak dataran tinggi, dan gunung berapi. Gunung Soputan, Sempu, Tondano, Lokon, Mahawu, Klabat, dan Karangetangadalah sebagian nama gunung berapi aktif yang berada di bentangan alam Pulau Sulawesi. (Global Volcanism Program).
Jejeran gunung dan bentangan alam di wilayah Sulawesi tersebut menjadi bukti nyata, Pulau Sulawesi merupakan pulau yang berada di atas sesar aktif lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.
Ada pula sesar Parit-parit yang garis patahannya berawal dari laut Makassar Selatan dan laut Bone. Masih banyak lagi patahan kecil yang berada di laut, dan darat Sulawesi. Di permukaan bumi, patahan sesar ini membentuk garis Sungai maupun bukit dan gunung yang menjajar di wilayah Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Selatan. (ijal)
Sumber