Peringatan Penyakit Virus MERS di Asia

01.25 Add Comment

Virus MERS
Belum terlepas dari ingatan, bagaimana bencana penyakit global pernah menjadi momok menakutkan bagi masyarakat negeri ini. Masih ingatkah tentang bencana wabah penyakit SARS? Atau mungkin Flu Burung? Bahkan Ebola?
Virus yang dijuluki Middle East Respiratory Syndrom (MERS) ini diketahui kembali mewabah dan menjadi alasan utama ketakutan masyarakat Korea Selatan. Terhitung sejak bulan lalu, seperti yang dikutip dari Portal National Geographic Indonesia, Negara Korea Selatan melaporkan ada 17 kasus yang dicurigai sebagai kasus MERS di wilayahnya. Dari ke 17 kasus tersebut, baru 10 yang betul positif dan kemudian menjadi perhatian WHO.
Belum lama ini, merebak lagi kasus wabah penyakit serupa, kali ini gejala pertama kali datang dan menghantui wilayah negara Arab Saudi sejak 2012 silam, hingga memunculkan perhatian khusus dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Kabar yang berhembus selanjutnya membawa informasi yang lebih miris. Wabah MERS kini dilaporkan telah membunuh sedikitnya 2 orang warga Korea Selatan. Wabah yang menginfeksi sistem pernafaasan ini pun diumumkan menjadi ancaman serius bagi Korea Selatan. Setidaknya 680 orang terpaksa harus dikarantina Kementrian Kesehatan Korea Selatan seperti yang dilansir dari nationalgeographic.co.id
Penyakit ini memiliki nama lengkap MERS-CoV atau Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus. MERS-CoV ini diidentifikasi disebabkan oleh inveksi virus Corona, sejenis virus yang masih berkerabat dengan SARS.
Karena memiliki virus yang sama dengan SARS, MERS-CoV pun memiliki gejala yang hampir serupa, yaitu demam, bersin, batuk, yang berujung pada kematian karena ancaman komplikasi serius. Bencana virus mematikan ini menggerogoti multiorgan, gagal ginjal, koagulopati konsumtif, perikarditis serta pneumonia berat.
Gejala MERS-CoV yang sudah terbukti menyebar hingga Korea Selatan seharusnya menjadi peringatan dini bagi Indonesia. Letak Korea Selatan memiliki jarak geografis yag tak jauh dari Indonesia, jumlah penduduk Indonesia yang melaju dari Korea Selatan ke Indonesia maupun sebaliknya pun bukan jumlah yang sedikit. Terlebih jutaan warga Indonesia yang mengunjungi Tanah Suci Makkah – lokasi pertama penyebaran virus MERS-CoV – tiap tahunnya menjadi ancaman baru penyebaran bencana virus mematikan ini.
Menurut Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan seperti yang dikutip dari nationalgeographic menyebutkan bahwa Virus MERS-CoV menular setidaknya melalui empat cara, yakni dari penderita MERS itu sendiri, tertular dari pasien lain, tertular dari petugas kesehatan di Arab Saudi, atau mungkin tertular dari lingkungan rumah sakit tempat pasien MERS-CoV dikarantina.
Memang hingga detik ini, Kementerian Kesehatan Indonesia belum pernah menemukan satu pun laporan bencana wabah virus MERS-CoV menjangkiti masyarakat Indonesia. Namun tetap saja, virus yang lebih mematikan ketimbang SARS ini harus tetap diwaspadai penyebarannya mengingat belum ada satu pun vaksin yang ditemukan untuk menangkal virus ini. (ijal)
Sumber

Ibukota Makin Rawan Bencana Gempa

01.24 Add Comment

Gempa Jakarta
Catatan sejarah lampau membuktikan bahwa Ibukota pernah terguncang hebat akibat gempa bumi berskala masif yang terjadi ratusan tahun lalu. Sir Thomas Stamford Raffles dalam catatan sejarahnya bertajukHistory of Javapernah menuliskan bahwa di tanggal 4-5 Januari 1699, gempa besar melanda selatan Jawa Barat akibat bencana letusan Gunung Salak, dampaknya masif. Getaran terasa sangat kuat di wilayah Batavia, Jakarta tua kala itu. Raffles bercerita bahwa gempa 1699 membuncahkan lumpur dari dalam perut bumi, menutup aliran sungai besar di Batavia, dan menyebabkan kondisi lingkungan yang hancur lebur di Ibukota Hindia Belanda.
Bayangkan sebuah getaran gempa dahsyat seperti yang terjadi di patahan Andaman Aceh 2004 silam melanda ibukota? Kerumitan populasi masyarakat Jakarta serta untaian gedung pencakar langit yang berlomba-lomba menjadi bangunan yang paling tinggi di Ibukota semakin menambah seram risiko gempa di Ibukota. Padahal, sudah banyak ilmuwan kebencanaan yang berpendapat bahwa bukanlah gempa dahsyat yang menjadi sumber kematian, tapi konstruksi bangunan yang dibangun tidak dengan kapasitas tahan gempa-lah yang akan menjadi sumber mematikan utama ketika bencana gempa bumi menjelang.
Catatan lain pun menyebutkan bahwa Jakarta pernah diguncang oleh gempa besar lagi pada tahun 1780. Seabad kemudian, Jakarta kembali luluh lantak akibat bencana letusan Gunung Krakatau dan tsunami masif yang dihasilkan oleh letusan Krakatau. Membunuh puluhan ribu jiwa dalam sekian hari.
Sejumlah catatan kebencanaan gempa yang berdampak pada Jakarta tersebut setidaknya menjadi emergency call. Sembilan juta jiwa warga Jakarta tak bisa begitu saja mengabaikan peluang gempa bumi di wilayah Ibukota.
Seperti data yang dikutip penulis dari beragam sumber di ruang maya menyebutkan bahwa Jakarta lebih rentan terancam getaran gempa hasil rambatan patahan dari wilayah selatan Jawa Barat melalui patahan Cimandiri dan Patahan Lembang, ketimbang guncangan gempa yang berasal dari patahan di selat Sunda. Banyak bukti membuktikan bahwa Jakarta dilintasi oleh jalur seismik dari patahan Cimandiri yang membatasi tinggian Tangerang di bagian barat dari Cekungan Ciputat yang bergaris hingga ke Rengasdengklok.
Dr Danny Hilman Natawijaya, seorang pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyebutkan bahwa probabilitas kemungkinan gempa yang terjadi di Jakarta meningkat sejak tahun 2002. Pada tahun 2002, kerentanan Jakarta terhadap gempa berada dalam angka 0.15 g (skala gravitasi). Data terakhir pada 2010 menunjukkan kerentanan Jakarta pada angka 0.2 G.
Namun, selain bencana gempa. Rupanya ancaman tsunami pun membayang di kepadatan sembilan juta penduduk Indonesia. Seperti yang telah dipahami sebelumnya, bahwa Selat Sunda merupakan jalur seismik aktif hasil tubrukan lempeng Eurasia dan lempeng Indo Australia. Jika terjadi pelepasan energi sebesar lebih dari 8 skala richter di patahan sekitar Selat Sunda, maka tsunami besar pun akan melanda wilayah Kepulauan Seribu dan Ibukota Jakarta.
Bencana memang mengintai Ibukota, namun nyatanya bencana bukan sebuah hal yang harus ditakutkan. Bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami harus disikapi secara arif, dipikirkan potensi dan risiko yang membayang, dan dicarikan solusi preventif terbaik untuk menekan angka korban jiwa dan kerugian materi.(ijal)
Sumber

Fenomena El Nino dan La Nina Pemicu Bencana Iklim Ekstrim di Indonesia

01.23 Add Comment

Fenomena El Nino dan La Nina
Pada dasarnya, iklim Indonesia memang berada dalam posisi yang tidak stabil akibat beragam faktor. BNPB mendaftar penyebab utama perubahan musim yang signifikan di beragam wilayah Indonesia akibat dari fenomena berikut: El Nino dan La Nina, sirkulasi monsun Asia-Australia, pertemuan angin antar tropis hingga perubahan suhu permukaan air laut.
Sejak ratusan tahun lalu, posisi Indonesia yang berada di tengah garis khatulistiwa, cenderung beriklim hangat, dan terdiri dari samudera luas, teluk, dan selat telah memicu dua musim yang terus datang silih berganti, musim hujan dan musim kemarau.
Namun, seperti yang acapkali dirasakan sebagian besar penduduk negeri ini, bahwa Indonesia memiliki ratusan zona musim yang berbeda-beda tiap petak wilayahnya. Terkadang bahkan perubahan musim di beberapa wilayah cenderung ekstrim. Hari ini panas terik, kering berkepanjangan, tapi minggu depan langsung hadir hujan deras tak berkesudahan. Perubahan iklim ekstrim yang amat sering terjadi di Indonesia ini akan berubah menjadi bencana mematikan apabila tak mampu dimitigasi dengan baik.
Lantas, apa yang dimaksud dengan fenomena El Nino dan La Nina? Mungkin bagi beberapa siswa sekolah menengah di negeri ini sudah pernah diajarkan dan diberikan informasi mendalam pada mata pelajaran Georafi tentang dua fenomena unik yang berperan besar dalam perubahan iklim di Indonesia ini. Berikut penjelasan singkat tentang fenomena yang asal usulnya berasal dari bahasa Spanyol ini
El Nino dapat dijelasakan sebagai fenomena alam tentang meningkatnya suhu muka laut di sekitar Pasifik Tengah dan Timur sepanjang ekuator dari nilai rata-ratanya. Secara historis El Nino berarti anak laki-laki dalam bahasa Spanyol. Ketika bumi memasuki koridor masa El Nino, maka fenomena Angin Pasat Timur melemah. Angin berbalik arah dan mendorong wilayah potensi hujan ke wilayah Barat. El nino serupa dengan kembarannya La Nina, merupakan fenomena cuaca yang berdampak secara global. Dampak nyata yang dapat dirasakan adalah curah hujan berkurang di wilayah Indonesia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan bagian Utara. Cuaca di Indonesia cenderung dingin dan kering. El Nino akan menyebabkan fenomena Kemarau berkepanjangan tergantung seberapa besar intensitas El Nino tersebut, jika El Nino berada pada skala kuat (Strong El Nino) maka akan berdampak langsung pada bencana kekeringan dan kebakaran hutan.
Selain El Nino, ada pula fenomena La Nina. Dalam bahasa latin Spanyol, La Nina memiliki arti “gadis cilik”. La Nina adalah kebalikan dari El Nino, dimana dalam kondisiLa Nina terjadi penurunan suhu muka laut di kawasan timur garis khatulistiwa, di sekitar laut Pasifik. Akibat global dari La Nina adalah potensi hujan meningkat drastis di sepanjang sisi barat garis khatulistiwa Samudera Pasifik, seperi Indonesia, Malaysia dan Australia sebelah utara.
Potensi terburuk akibat La Nina di Indonesia adalah hujan deras tiada henti yang memicu bencana banjir di kota-kota langganan banjir. Ketika masuk dalam fase fenomena La Nina, maka Curah hujan di sebagian wilayah Indonesia meningkat signifikan, atmosfer di atas Indonesia dipenuhi pun oleh awan hujan setiap harinya. (ijal)
Sumber

Waspada Bencana Kebakaran Hutan Selama Musim Kemarau

01.21 Add Comment

Kebakaran Hutan Kalimantan
Memasuki pertengahan tahun, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki koridor perubahan musim dari iklim hujan menuju iklim suhu panas, dan kemarau. Menurut data dari BMKG, sebagian besar wilayah nusantara akan merata gejala kemarau menjelang awal Juni.
Musim kemarau, selain membawa bencana kekeringan yang berkepanjangan, gagal panen, dan penyakit akibat suhu panas yang tak menentu juga membawa peluang bencana kebakaran hutan. Beberapa wilayah rawan bencana kebakaran hutan di Sumatera dan sebagian besar wilayah Kalimantan harus bersiap mempersiapkan potensi kebakaran hutan.
Kebakaran hutan di beragam titik rawan di Sumatera dan Kalimantan akan berakibat buruk terhadap kualitas udara di kota-kota sekitar kawasan terdampak kebakaran. Bencana asap pekat yang sangat menganggu kesehatan masyarakat akan membawa ancaman penyakit pada saluran pernafasan.
Sumber Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan penyebab utama bencana kebakarana hutan yang banyak terjadi di Sumatera dan Kalimantan adalah akibat sambaran petir pada musim kemarau panjang, sumber api karena kecerobohan manusia (seperti puntung rokok dan api perkemahan), aktivitas vulkanik gunung api, hingga yang paling tak bisa dimaafkan adalah sengaja mengambil jalan singkat untuk membakar hutan dalam rangka membuka lahan pertanian baru.
Bencana kebakaran hutan pada dasarnya memang tak menjadi perbincangan hangat seputar isu kebencanaan nasional. Namun, potensi kebakaran hutan yang meningkat drastis pasca memasuki musim kemarau di pertengahan tahun ini setidaknya akan mengancam kesulitan, dan kesehatan sebagian masyarakat kawasan hutan di Sumatera dan Kalimantan. Terhambatnya arus transportasi akibat polusi udara yang menutup langit, hingga menyebabkan meningkatnya angka kematian akibat potensi penderita penyakit Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) dan kanker paru-paru.
Mengantisipasi bencana kebakaran hutan menjelang musim kemarau, daerah Kabupaten dan Kota Riau, sebagai salah satu titik yang memiliki potensi kebakaran tinggi sudah memberikan status siaga darurat. Status Siaga Kebakaran Hutan Riau sejatinya sudah habis masanya pada Maret lalu, sejak bencana kebakaran hebat melanda dan menyebabkan polusi udara pekat di Riau pada awal tahun 2015 silam.
Perpanjangan status Siaga di Riau diperintahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya seperti yang dikutip dari portal antaranews. Siti Nurbaya memerintahkan langsung Pemprov Riau untuk berlaku tegas dan sigap memperpanjang status siaga darurat kebakaran hutan yang diprediksi lebih hebat mengingat potensi suhu panas dan minim curah hujan menjelang pertengahan tahun.
Suhu udara panas dan minim curah hujan akan meningkatkan kuantitas titik panas di lahan kering dan hutan gambut. Berdasar pada data terbaru BMKG yang dirilis pada Maret 2015, titik panas di Pulau Sumatera rata-rata berjumlah 50 titik. Terbanyak berada di area hutan Riau. (ijal)
Sumber

Bulan Ramadhan 2015, Bencana Kemarau Mengintai

01.20 Add Comment

Kemarau Ramadhan
Kurang dari dua minggu mendatang, bulan Ramadhan 1436 H menyambut sebagian besar masyarakat Indonesia. Pada dasarnya, tak ada beda signifikan antara bulan ramadhan tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan pernyataan dini bahwa ramadhan tahun ini waspada bencana kekeringan karena musim Kemarau di beberapa wilayah Indonesia, terutama di Indonesia bagian timur.
Sejatinya, musim Kemarau tahun ini sudah mulai menunjukkan gejalanya sejak Bulan April lalu. Namun menurut peta BMKG, Indonesia memiliki 342 zona musim yang berbeda satu dengan yang lainnya. Karakteristik cuaca yang selalu berbeda antara daerah satu dengan daerah lain membuat permulaan musim Kemarau pun berbeda untuk setiap wilayah.
Berdasar pada laporan Kepala BMKG, Andi Eka Surya seperti yang dikutip dari portal Detik.com menyebutkan bahwa Bulan Maret lalu, Kemarau sudah menyentuh wilayah Sumatera bagian timur, Kalimantan bagian utara, hingga Sulawesi dan Maluku bagian Utara.
Lalu berturut masuk bulan April hingga Juni wilayah di Indonesia yang mengalami curah hujan rendah di bawah 150 nm adalah Bali, NTT, NTB dan sebagian besar wilayah Pulau Jawa. Puncak Kemarau tahun ini diprediksi akan terjadi pada September. Dampak bencana kekeringan harus diwaspadai terutama di sebagian besar wilayah Indonesia Bagian Timur.
Bulan Ramadhan tahun ini setidaknya membawa ancaman yang sering melanda saat musim Kemarau, seperti kekeringan dan kebakaran lahan atau kebakaran pemukiman. Suhu siang hari yang makin terik ketika bulan puasa pun harus diwaspadai. Suhu tinggi dalam kondisi puasa akan membawa ancaman dehidrasi danHeatstrokeseperti yang melanda masyarakat India pada bencana suhu panas satu minggu terakhir.
Sebagian besar wilayah padat penduduk di kota besar Pulau Jawa pun berada dalam bayang-bayang bencana kebakaran pemukiman. Suhu panas terik di siang hari pada musim kemarau jelas akan menambah peluang kebakaran di tengah wilayah padat penduduk.
Namun, selain antisipasi musim Kemarau, BMKG pun memperkirakan akan adanya perubahan musim yang mendadak di pertengahan tahun. Di antara teriknya musim kemarau, BMKG memprediksi akan adanya penambahan curah hujan di beberapa wilayah. Seperti yang diketahui, iklim Indonesia memang berada dalam posisi yang tidak stabil akibat fenomena El Nino dan La Nina, sirkulasi monsun Asia-Australia, pertemuan angin antar tropis hingga perubahan suhu permukaan air laut.
Perubahan cuaca yang tidak stabil menjelang pekan Ramadhan ini membawa ancaman pula terhadap bencana penyakit-penyakit khas musim pancaroba, terutama bagi sebagian besar masyarakat marjinal di kota-kota besar di Indonesia.(ijal)
Sumber

Seismic Gap di Pesisir Barat Sumatera: Waspada Gempa Bumi Dahsyat

01.19 Add Comment

Seismic Gap
Para ahli bencana meyakini bahwa zona Subduksi Mentawai di lepas pantai Sumatera Barat memiliki perulangan siklus 200 tahunan. Titikmegathrust tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia terbentang dari Andaman, Aceh, Nias, Selat Sunda, Jawa, Bali, dan Lombok.
Sejauh ini, titik megathrustAndaman di Aceh sudah melepaskan energi besarnya yang menyebabkan bencana tsunami dahsyat di Aceh 2004 silam, Nias dan Bengkulu pun sudah melepaskan energinya. Tinggal menunggu segmen Mentawai yang masih diam menyimpan tingkat energi yang dahsyat.
Senada dengan kenyataan tersebut, seperti yang dikutip penulis dari portal Liputan6.com, Presiden Geohazard (sebuah lembaga non profit di Amerika yang bergerak dalam bidang pengurangan risiko bencana) Brian Tucker, mengatakan bahwa bukti yang paling kuat untuk prediksi gempa bumi selanjutnya setelah gempa Nepal adalah mengarah ke lepas pantai Sumatera. Energi yang tersimpan di patahan Sumatera bagian barat masih banyak yang berlum terlepas. Pelepasan energinya setara dengan 8,8 hingga 8,9 skala richter.
Jika memprediksi wilayah mana di Indonesia yang berada dalam level kegempaan tertinggi, maka sebagian besar peneliti kebencanaan pasti akan menunjuk wilayah pesisir barat Pulau Sumatera. Pada dasarnya, aktivitas kegempaan memang tak dapat diprediksi. Belum ada ilmu atau alat canggih yang dapat melihat pergerakan lempeng di bawah permukaan bumi sebagai akibat utama yang memicu bencana gempa bumi seismik.
Namun, menilik peta kebencanaan di Indonesia, wilayah pesisir barat pulau Sumatera berada dalam jalur aktif patahan Eurasia dan Indo-Australia. Dua lempeng tersebut setiap harinya masih terus bergerak aktif, melepaskan energi puluhan kilometer ke atas permukaan bumi dengan asumsi skala sekitar 3 hingga 5 skala richter. Jika pergerakan lempeng mematahkan jalur patahan panjang, maka energi yang terlepas dapat mencapai 8 hingga 9 skala richter. Seperti yang terjadi pada patahanmegathrust Andaman, yang retak sejauh 1000 km, tersangka utama pemicugempa dahsyat 9.1 skala richter yang meluluhlantakkan Aceh pada 2004 silam.
Lantas apa yang menyebabkan pesisir barat Pulau Sumatera berada dalam bayang-bayang bencana gempa berskala dahsyat? Adalahseismic gap, atau sebuah titik atau koordinat yang berada dalam jalur seismik aktif, namun sudah sekian lama tidak tercatat oleh seismograf melepaskan energi hasil tumbukan lempeng. Titik semacam ini sebetulnya tidak sedang tertidur, namun berlaku hukum seperti ketapel. Patahan sedang terlipat dan tertarik macam ketapel. Semakin lama patahan terlipat, energi yang terkumpul pun semakin dahsyat. Tercatat, puluhan bahkan ratusan titik di zona subduksi pesisir barat Sumatera masih menyimpan energi bencana gempa bumi dalam skala dahsyat. Salah satu titik patahan yang belum melepaskan energinya selama ratusan tahun adalah titikmegathrust Andaman yang berada di antara Pulau Siberut sebelah barat Pulau Sumatera. (ijal)
Sumber

Bencana Letusan Sinabung, Gejolak Setelah Ratusan Tahun Tertidur

01.18 Add Comment

Gunung Sinabung
Bencana letusan Sinabung pada 2010 seketika membangunkan penduduk yang berada di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Sinabung yang memiliki tinggi puncak 2.460 meter di atas permukaan laut menjadi sebuah ancaman bencana gunung api yang aktif kembali setelah sekian lama tertidur.
Sejak pertama kali bergejolak di tahun 2010, dapur vulkanik Sinabung kembali meletuskan kembali isi perutnya di September 2013, pelepasan energi vulkanik Sinabung masih berlangsung sejak kini. Sudah hampir 2 tahun bencana letusan Sinabung tak menunjukkan gejala usai.
Bahkan, tepat di hari ini 3 Juni 2015, Badan Nasional Penanggulangan Bencana kembali meningkatkan status aktivitas Sinabung menjadi Awas. Sutopo Purwo Nugroho selaku Humas BNPB seperti yang dikutip dari laman Detik.com mengatakan bahwa status Sinabung kembali ditingkatkan di awal Juni ini karena peningkatan aktivitas secara signifikan di dalam dapur magmanya.
Mendengar nama Sinabung, sebagian besar masyarakat negeri ini, terutama yang berada di wilayah barat Indonesia pasti langsung mengenal dan membayangkan letusan gunung yang tak berhenti hingga kini. Dahulu, Sinabung sama sekali tak terdengar namanya, kalah dengan tren hingar bingar diskusi kebencanaan tentang gunung api Krakatau, Merapi, Tambora, Kelud dll. Pada kenyataannya memang Sinabung adalah gunung api purba yang mendadak aktif kembali sesaat setelah menyembulkan awan vulkaniknya pada tahun 2010. Sebelumnya, Sinabung adalah gunung api yang sama sekali tak ada gejala aktivitas vulkanistercatat sejak tahun 1600.
Hampir dua tahun bencana erupsi Sinabung masih saja terus bergejolak hingga kini, fenomena ini diperkirakan oleh BNPB sebagai akibat dari ratusan tahun Sinabung diam tak beraktivitas. Pelepasan energi luar biasa setelah ratusan tahun tidak erupsi setidaknya akan berlangsung lama dan tak dapat diprediksi.
Pergeseran struktur lempeng bawah kulit Bumi antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia yang berada di sepanjang pesisir Sumatera bagian barat terus mencari posisi keseimbangannya. Patahan-patahan inilah yang diperkirakan memicu aktivitas dapur vulkanik Sinabung hingga aktif lagi setelah sekian ratus tahun tak beraktivitas.
Hingga kini, tercatat lebih dari 20 ribu orang yang berada di sekitar Sinabung masih bertahan di beragam tenda-tenda pengungsian. Setiap harinya, sejak 2013 hingga hari ini, level Sinabung tak pernah turun dari level 3 atau 4. Sinabung masih bertingkah memicu bencana kegempaan, letusan, dan luncuran awan panas tiada henti.
Bahkan sejak Maret hingga Juni tahun ini, kubah lava terus membuntal berisi jutaan meter kubik lava, dan kemudian runtuh membentuk guguran awan panas. Fenomena ini terus berlangsung hingga kini tanpa ada tanda-tanda berhentinya aktivitas letusan.
Mengutip dari Portal Kompas.com, salah seorang warga desa yang berada di sekitar Sinabung bahkan sampai menuliskan sebuah kalimat ratapan berbahasa Karo di tembok rumahnya: Ate-atendu, Tuhan. Sinabung ampun! Dalam bahasa Indonesia, kalimat tersebut bermakna “Kami berserah padaMu, Tuhan. Sinabung membuat kami minta ampun.” (ijal)
Sumber