Fakta Penindasan Etnis Rohingya

22.59 Add Comment
Sejak 31 Maret lalu, resmi sudah etnis Rohingnya yang berjumlah 1,3 juta hingga 1,5 juta tak memiliki status sebagai warga negara manapun. Tak ada dokumen warga negara berarti tak ada tempat bagi mereka, bergerak pun tidak boleh, tak ada ruang untuk melangkah dari satu ke tempat lain di Myanmar, Undang-undang yang menyekat pergaulan bahkan cinta mereka sesama umat manusia pun dibatasi. Oleh sebab itu, etnis Rohingya pun mencari jalan keluar. Mereka memilih untuk mengapung di laut berbulan bahkan bertahun-tahun. Diselundupkan oleh sejumlah jaringan penyelundup manusia. Menjadi salah satu bencana sosial terbesar saat ini.
Satu bulan terakhir, pemberitaan sejumlah headline media nasional maupun internasional ramai oleh artikel yang menyentuh nurani. Tentang perjuangan anak manusia etnis Rohingya dalam mengarungi laut selama berbulan-bulan sejauh ribuan kilometer, menyelamatkan jiwa, mencari pertolongan dan belas kasih dari negara tetangga di seputar Myanmar. Mereka terusir dari tanah Rakhine, dekat perbatasan Myanmar dan Bangladesh di sudut timur laut Indonesia. Rakhine adalah satu negara bagian di Myanmar, tempat kamp-kamp konsentrasi etnis mereka selama ini berteduh. Penindasan etnis Rohingya menjadi bentuk bencana sosial yang paling menyita perhatian saat ini.
Berdasar catatan UN Refugee Agency, lebih dari 120.000 etnis rohingya telah memilih mengarungi lautan, terombang-ambing tak tentu arah. Jika mereka tetap memilih tinggal di Rakhine, penjara akan menjadi rumah mereka. PBB mengklasifikasikan etnis Rohingya sebagai etnis yang saat ini paling tertindas di dunia. Intervensi diplomatik antar negara sedang diusahakan menjadi jalan keluar terbaik mengatasi bencana sosial krisis pengungsi Rohingya ini.
Lantas apa sesungguhnya yang menjadi penyebab konflik etnis Rohingnya ini melaju berkepanjangan? Kepada siapa bencana sosial ini harus dimintai pertanggung jawabannya? Berikut adalah sepotong cerita yang menjelaskan alasan utama mengapa ribuan pengungsi etnis Rohingnya harus memilih mempertahankan hidupnya dengan pergi dari tanah Rakhine, menjelajah laut tanpa perbekalan apapun, menantang maut dengan berlayar ribuan kilometer demi mengharap pertolongan bangsa lain.
Rohingya, adalah sekelompok etnis muslim yang sudah sejak lama resmi tak memiliki tanah tempat bermukim. Rohingya tak diakui di kebangsaan manapun. Mereka sejatinya tak dianggap oleh pemerintah Myanmar sudah sejak dekade lalu. Berdasar catatan dan pengakuan mereka, etnis Rohingya mengaku sebagai keturunan dari para pedagang arab yang telah mendiami tanah kelahirannya di Rakhine selama beberapa generasi. Mereka juga tersebar di Bangladesh, Saudi Arabia, dan Pakistan. Namun nyatanya, pemerintah Myanmar menegaskan bahwa mereka sejatinya adalah imigran dari Bengali. Di Myanmar mereka diklasifikasikan sebagai tenaga kasar, tak memiliki hak terhadap tanah dan tempat tinggal, dan sangat dibatasi ruang geraknya. Terhitung sejak 4 dekade lalu, pemerintah Myanmar telah mengeluarkan undang-undang untuk menekan Rohingya keluar dari Myanmar.
Sejak saat itu, pergerakan mereka betul-betul diawasi dan dibatasi. Penindasan terhadap etnis Rohingya semakin menjadi sejak gerakan pembaharuan dikenalkan oleh Presiden Thein Sein pada 2011. Sekitar Juni hingga Oktober 2012 menjadi momen duka bagi etnis Rohingya ketika penyerangan terhadap etnis mereka di negara bagian Rakhine makin masif terjadi. Setidaknya 200 orang etnis Rohingya tewas akibat kerusuhan 2012.
Hingga puncaknya pada Maret 2015 lalu, pemerintah Myanmar secara resmi mencabut hak etnis Rohingya terhadap kartu identitas penduduk, satu-satunya dokumen resmi yang mereka miliki sebagai tanda bahwa mereka adalah penduduk Myanmar. Pencabutan kartu identitas tersebut berarti mereka tak memiliki lagi hak suara pada pemilihan umum. (IJL)

5 Gempa Bumi Dahsyat

22.58 Add Comment
Sejak bergulirnya sejarah modern, kebencanaan menjadi suatu gejala alam yang tak lagi asing ataupun absurd. Bencana kini mampu diprediksi dan dihitung dalam berbagai macam skala, tak terkecuali bencana alam gempa bumi. Seismometer, atau alat yang digunakan untuk menghitung skala gempa berdasarkan skala richter telah dipasang dan diaplikasikan di seluruh belahan dunia. Ketika gempa bumi di suatu sudut bumi mengguncang, maka dapat dipastikan hampir seluruh alarm seismometer di penjuru bumi akan bedering dan menghitung besaran skalanya untuk kemudian dikirimkan menjadi laporan peringatan dini bencana. Terkadang, perhitungan skala gempa bumi ini akan berbeda satu sama lain. Tak bisa dipastikan akurasinya seketika. Namun sejarah berhasil mencatat bahwa gempa bumi terdahsyat yang pernah mengguncang bumi berada dalam skala maksimum 9 skala richter. Berikut fakta tentang 5 bencana gempabumi terbesar yang pernah tercatat oleh seismograf.
Valdivia, Chile. 22 Mei 1960 (9.5 skala richter)
Sembilan koma lima skala richter merupakan angka terbesar yang pernah terekam oleh seismograf. Gempa chile ini merupakan catatan rekor terbesar yang pernah mengguncang bumi. Zona patahan akibat gempa super ini melintang sejauh 1000 km. Mengakibatkan tsunami setinggi 25 meter hingga ke Hawaii, Jepang, bahkan Filipina. Dua hari usai bencana alam gempa bumi dahsyat Chile, gunung berapi Puyehue dekat lokasi episentrum tiba-tiba aktif dan mengeluarkan awan panas setinggi lebih dari 6 km ke atmosfer.
Sendai, Jepang, 11Maret 2011 (9.0 skala richter)
Empat tahun lalu, seismograf di belahan penjuru bumi mencatatkan gempa Sendai, Jepang sebagai bencana alam gempa bumi terbesar ke-4 sepanjang sejarah, dan terbesar pertama sepanjang sejarah kebencanaan Jepang. Menewaskan lebih dari 10 ribu jiwa di sepanjang pantai timur Jepang. Dampak ekonomis yang harus ditanggung oleh Jepang begitu masif, merusak ribuan infrastruktur dan mematikan reaktor nuklir Fukushima.
Prince William Sound, Alaska, 28 Maret 1964 (9.2 skala richter)
Gempa kedua terbesar setelah gempa Chile, hanya berpaut 4 tahun dari gempa di Valdivia Chile. Patahan terjadi di atas Alaska, hingga ke beberapa lokasi di sekitar Kanada. Kerusakan terparah melanda kota Anchorage, 120 km barat laut dari episentrum gempa. Namun karena populasi Alaska tak seberapa padat, maka gempa dahsyat ini “hanya” membunuh 128 jiwa dan mengakibatkan kerugian US$ 311 juta.
Sumatera, Indonesia, 26 Desember 2004 (9.1 skala richter)
Berdasar pada total kerusakan dan catatan korban jiwa, bencana alam gempa bumi ketiga terbesar sepanjang sejarah ini menjadi gempa bumi paling mematikan. Berkekuatan 9.1 skala richter, gempa 26 Desember yang mengguncang Samudera Hindia dan sekitarnya ini membunuh total 227.900 jiwa. Menelantarkan 1.7 juta jiwa di lebih dari 14 negara di Asia tenggara dan Timur Afrika. Episentrumnya berada di 250 km sebelah tenggara Banda Aceh.
Kamchatka, Russia, 4 November 1952 (9.0 skala richter)
Bencana alam gempa bumi yang mengguncang sisi timur dari Russia ini merupakan gempa bumi pertama dengan skala di atas 9.0 skala richter yang berhasil tercatat oleh seismograf. Memicu gelombang tsunami setinggi 9 meter di seputar pesisir Samudera Pasifik. Kerugian harta benda dan kerusakan infrastruktur mencapai US$ 1.000.000. Namun anehnya, tak ada laporan catatan yang menunjukkan korban jiwa. (IJL)

Gempa Bumi Terbesar Yang Tercatat Dalam Sejarah

22.57 Add Comment
Melihat ke belakang, menilik sejarah kebencanaan, adalah cara terbaik untuk merefleksikan cara pencegahan dan memikirkan solusi serta mitigasi terbaik dalam rangka mengurangi risiko buruk bencana. Berangkat dari pemikiran tersebut, berikut adalah fakta seputar bencana alam gempa bumi terbesar yang pernah tercatat oleh sejarah modern.
Dalam satu dekade terakhir, dua gempa bumi dahsyat: Gempa bumi Aceh 2004 (9.1 skala richter) dan gempa bumi Sendai 2011 (9.0 skala richter) menjadi catatan buruk dalam peradaban kebencanaan. Namun dua bencana alam gempa bumi dahsyat itu bukanlah yang terkuat dalam catatan sejarah. Adalah gempa bumi yang mengguncang Valdivia, Chile pada 1960 yang menjadi gempa terbesar berdasar magnitudo dalam skala richter. 22 Mei 1960 menjadi sejarah kelam bagi warga kota Valdivia, Chile, kala itu 9.5 skala richter guncangan gempa super dahsyat melululantakkan kota hanya dalam hitungan menit. Memicu tsunami di Samudera Pasifik setinggi lebih dari 25 meter.
Great Chilean Earthquake atau 1960 Valdivia Earthquake merupakan guncangan terbesar yang terjadi akibat tumbukan atau subduksi kulit bumi yang pernah tercatat oleh sejarah modern. Bencana alam gempa bumi yang menggoyang Chile menjelang sore hari (19.11 GMT / 15.11 local time) di hari itu berlangsung selama tak lebih dari 10 menit. Episentrum gempanya berada di dekat wilayah Lumaco, kurang lebih 570 kilometer (350 miles) selatan Santiago, ibukota negara Chile. Akibat gempa hebat tersebut, 25 meter gelombang tsunami menghempas pesisir barat Chile, dan menggulung setinggi 10 meter melintasi Samudera Pasifik hingga ke Hawai, Jepang dan Filipina sejauh 10 ribu kilometer dari episentrum.
Namun, karena populasi penduduk pesisir pantai Chile kala itu yang takterlalu padat, total korban akibat gempa super dahsyat tersebut tak sampai 1/10 dari total korban jiwa yang terenggut oleh bencana gempa dan tsunami Sumatera, Aceh 2004. Catatan sejarah menunjukkan “hanya” 6000 jiwa tewas di Valdivia dari total korban bencana alam gempa bumi Sumatera, Aceh 2004yang mencapai 200 ribu korban jiwa.
Pasca gempa super Valdivia, 40% bangunan rumah hancur lebur, meninggalkan 20 ribu tuna wisma. Infrastruktur jalan raya menjadi bagian yang terkena dampak paling parah karena perubahan struktur tanah secara tiba-tiba, memicu bencana alam tanah longsor.
Gempa Valdivia termasuk dalam kategori megathrust earthquake. 9.5 skala richter yang tercatat merupakan akibat dari subduksi hebat lempeng Nazca dan lempeng Amerika Selatan yang berada dalam Palung Peru-Chile. Struktur zona subduksi di wilayah tersebut memang diketahui memiliki peluang besar untuk menghasilkan gempa dahsyat. Kala itu, bencana alam gempa bumi yang menggoyang Valdivia merupakan hasil dari energi yang terlepas akibat patahan kulit bumi sepanjang lebih dari 800 kilometer.
Pada 2010 lalu, lempeng Nazca dan lempeng Amerika Selatan kembali melepaskan energi supernya akibat subduksi yang tak pernah berhenti. 27 Februari 2010, pukul 03.34 waktu lokal, 8.8 skala richter guncangan gempa tercatat kembali dengan episentrum sedalam 35 kilometer dari permukaan laut, tak jauh dari bekas patahan gempa bumi Valdivia 1960. (IJL)

Cerita Tsunami Sendai 2011

22.56 Add Comment
Berdasar pencatatan, episentrum gempa merupakan lokasi subduksi antara Lempeng Pasifik yang menghimpit Lempeng Amerika Utara. Titik episentrum ini berjarak hanya 130 kilometer (80 miles) dari Sendai, Perfektur Miyagi, atau 373 kilometer dari ibukota Jepang, Tokyo.
Belum genap satu dekade usai tsunami Aceh 2004 meluluhlantakkan sebagian wilayah pesisir Samudera Hindia, dunia kembali dikejutkan oleh peristiwa gempa dahsyat yang berujung pada tsunami. Hari itu, Jumat 11 Maret 2011, pukul 05:46 UTC atau pukul 14.46 waktu setempat, sebelah barat Samudera Pasifik, 130 kilometer timur Sendai, wilayah lepas pantai Semenanjung Oshika, sebelah timur laut Tohoku (Honshu) terguncang hebat oleh pergerakan drastis yang terjadi di titik Palung Jepang. Guncangan dahsyat di pulau utama Jepang ini memiliki magnitudo sebesar 9.0 atau 9.1 dalam skala richter. Dengan skala guncangan gempa di atas 9.0 menjadikan kejadian kelabu di Jumat sore ini menjadi catatan bencana gempa terbesar yang pernah mengguncang Jepang, bahkan terbesar dalam 1.200 tahun terakhir.
Akibat dari subduksi lempeng yang terjadi secara bertahap sejak dua hari sebelum puncak gempa ini, retakan lempeng memiliki pola patahan lurus sepanjang kira-kira 480 kilometer, memanjang dari lepas pantai Perfektur Iwate hingga Ibaraki. Akibat dari patahan inilah, terjadi perubahan drastis di bentuk dan pola dasar laut yang mengakibatkan perubahan volume air secara tiba-tiba, air laut berubah menjadi gelombang dahsyat berwujud bencana alam tsunami yang menghempas pantai Pasifik Jepang. Tinggi maksimal gelombang tsunami yang menghantam seluruh pantai pasifik diperkirakan mencapai 10 meter (33 ft)
Kala itu, gempa Sendai seketika memicu peringatan dini bencana alam tsunami di sepanjang Samudera Pasifik. Kecepatan gelombang mencapai angka 800 km/jam! Menghasilkan tsunami bahkan hingga setinggi 3.6 meter di lepas pantai Kauai dan Hawaii.
Gelombang dahsyat tsunami ini mengakibatkan kerusakan fatal di sebagian besar wilayah Sendai, Perfektur Miyagi dan wilayah timur Jepang lain. Data terakhir yang dirilis pemerintah Jepang, tsunami Sendai telah melenyapkan 19.300 nyawa penduduk Jepang. Tak hanya itu, dikonfirmasi bahwa dua kereta penumpang dengan jumlah penumpang ratusan orang lenyap dan menghilang usai tsunami menghempas Sendai.
Walau selama ini fakta membuktikan bahwa penduduk Jepang telah sekian lama akrab dan berada dalam kondisi mitigasi terbaik ketika bencana melanda, namun tetap saja dampak kerusakan akibat kekuatan destruktif bencana alam tsunami Sendai demikian luar biasa. Perfektur Miyagi menjadi wilayah yang mengalami dampak terburuk. 10.800 orang penduduk Sendai meregang nyawa dan lenyap tersapu gelombang tsunami Samudera Pasifik, 4.100 lainnya mengalami luka-luka. Kerusakan infrastruktur pun tak bisa dianggap remeh, Jepang dengan kemajuan infrastrukturnya harus menanggung kerugian luar biasa akibat rusaknya jalur jalan dan lintasan kereta api super cepat, hancurnya puluhan ribu tempat tinggal, hingga yang masih menjadi masalah sampai detik ini, yaitu bencana kebocoran pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima akibat kerasnya hempasan tsunami. Kota Fukushimahingga detik ini masih berada dalam ancaman bahaya radiasi nuklir yang bocor akibat tsunami 4 tahun lalu. [IJL]

Kenangan Letusan Gunung Tambora

19.09 Add Comment
Belum lama ini, sejumlah aktivis dan peneliti lingkungan, baik nasional maupun global merayakan bersama 200 tahun meletusnya gunung stratovolcano Tambora. Gelaran ilmiah memperingati 2 abad letusan Tambora, salah satu bencana alam gunung meletus terdahsyat yang pernah terjadi di Indonesia.
Mulanya, gunung Tambora terbentuk oleh zona subduksi pergerakan lempeng kulit bumi di bawahnya, sebelum terjadi bencana alam gunung meletus, Tambora merupakan salah satu puncak tertinggi di Indonesia, dengan ketinggian mencapai 4300 meter.
Tambora adalah gunung api aktif yang terletak di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Saat ini, Tambora berada di wilayah administratif dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagia kaki gunung sisi selatan hingga barat laut), dan Kabupaten Bima(bagian lereng sisi setalan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara).
Hari itu, perhitungan tanggal di Kalender menunjukkan pertengahan April tahun 1815. Seketika langit di wilayah Indonesia Timur berubah menjadi hitam pekat, kelam tanpa sinar matahari sama sekali. Sebelum langit pekat, terjadi dentuman luar biasa keras dari puncak Tambora. Dentuman yang berada dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Suara dentuman menurut catatan sejarah terdengar hingga pelosok Pulau Sumatera, 2000 km jauhnya dari Tambora. Bencana alam gunung meletus Tambora menewaskan setidaknya sekitar 71.000 nyawa.
Usai puncak letusan, langit di seluruh dunia mengalami imbasnya. Material letusan gunung berupa abu vulkanik melayang menutupi Nusantara, berterbangan dan jatuh hingga di Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Bahkan letusan Tamboran pun berumbas pada musim gelap di seluruh belahan dunia. Satu tahun berikutnya, Eropa mengalami “Year Without a Summer” atau tahun tanpa musim panas. Debu dan material vulkanik muntahan kawah Tambora menutup sinar matahari dan mengakibatkan perubahan musim secara drastis hingga Eropa dan Amerika belahan utara dan timur.
Sesuai dengan catatan sejarah, bencana alam gunung meletus Tambora yang terjadi di pertengahan tahun 2015 terjadi dalam beberapa fase. Kala itu, selama beberapa abad sebelum tahun 1815, Tambora dilkasifikasikan sebagai gunung api yang tertidur tanpa aktivitas vulkanis yang berarti. Namun 5 April 2015, letusan pertama Tambora seketika bergemuruh dan mengeluarkan asap hitam. Hingga pada 10-11 April dentuman dahsyat Tambora mengeluarkan gemuruh puncaknya. Memuntahkan jutaan kubik hasil aktivitas vulkanis selama beberapa abad. Pukul 7 malam di tanggal 10 April merupakan puncak letusan, dengan ketinggian asap letusan yang menyentuh lapisan Stratosfer atau setinggi lebih dair 43 kilometer. aliran api besar berwujud lava panas mengalir deras keluar dari kawah Tambora. 100 km2 muntahan abu vulkanis dimuntahkan seketika dan menyebar perlahan hingga ke belahan Eropa. Letusan di malam kelabu inilah yang mengakibatkan puncak Tambora runtuh, dari yang sebelumnya memiliki tinggi 4.300 meter, kini tinggal menyisakan ketinggian 2.851 meter. Kekuatan letusannya empat kali lebih dahsyat ketimbang bencana alam gunung meletus Krakatau di tahun 1883.
Bencana alam gunung meletus dahsyat ini pun membentuk gelombang tsunami di beberapa pulau Indonesia. Berdasar catatan, menjelang tengah malam di tanggal 10 April 1815, Tsunami besar menerjang hingga keginggian 4 meter di Sanggar, Nusa Tenggara Barat. 1-2 meter di Besuki, Jawa Timur, dan 2 meter di Maluku. Sumber

Tsunami Aceh 2004

19.08 Add Comment

Pagi itu, Jumat 26 Desember 2004. Tanpa prediksi dan peringatan apa-apa, Indonesia dan sebagian besar wilayah Asia Tenggara dikejutkan oleh guncangan maha dahsyat dari bawah kulit bumi. Menjelang pukul 00.58 UTC atau 07.58 WIB, dua lempeng besar yang berada di bawah kulit bum, lempeng Hindia dan lempeng Burma saling bergerak, berhimpit satu sama lain, dan akhirnya mengguncangkan wilayah terdampak di Samudera Hindia dengan kekuatan sekira 9.1 Skala Richter. Gempa dahsyat yang kemudian membawa pembunuh susulan beruwuju bencana alam Tsunami atau gelombang air bah dengan tinggi puncak mencapai 30 meter (98 feet).
Tercatat lebih dari 230.000 nyawa tewas tersapu tsunami di 14 negara terdampak. Indonesia menjadi satu dari lima negara Asia yang mengalami kerusakan dan korban jiwa paling besar, diikuti oleh Sri Lanka, India, dan Thailand. Di indonesia sendiri, Tsunami 2004 telah merenggut nyawa sekitar 165.708 jiwa yang mayoritas merupakan warga Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
Berdasar catatan dan penelitian usai terjadinya tsunami Aceh 2004, gelombang maha dahsyat setinggi puluhan meter itu butuh waktu setidaknya 15 menit-7 jam untuk mencapai dan menghempas wilayah terdampak. 15 menit adalah catatan waktu bencana alam tsunami untuk menenggelamkan dan menghancurkan pesisir Pulau Sumatera. Lalu 90 menit hingga 2 jam kemudian, tsunami menerjang Thailand, Sri Lanka dan India di bagian sisi barat.
Bahkan menurut catatan yag dihimpun, gelombang tsunami mencapai Struisbaai di Afrika Selatan.8500 km dari pusat episentrum gempa di Simeulue. 16 jam setelah bencana alam gempa dengan tinggi 1.5 meter.
Berdasar penelitian terdahulu, bencana alam tsunami Aceh 2004 disebabkan oleh gempa ketiga terdahsyat yang pernah tercatat. Dengan kekuatan 9.2 Skala Richter, gempa yang menyebabkan bencana alam tsunami Aceh 2004 berpusat di antara Simeulue dan Pulau Sumatera. Tepatnya di 160 km di radial 330 derajat dari Pulau Simeulue. Kedalaman gempa berada pada jarak 30 km (19 mi) di bawah permukaan laut. Durasi gempa merupakan yang terlama sepanjang sejarah, kala itu bumi bergetar hebat selama kurang lebih 8.3 sampai 10 menit. Usai gempa berhenti, air laut pun surut dari garis pantai di sejumlah negara bagian terdampak gempa, lalu seketika muncul bencana alam tsunami yang menghempas pesisir pantai Indonesia, Bangladesh, India, Malaysia, Myanmar, Thailand, Singapura, dan Maladewa.
Tubrukan lempeng yang mengakibatkan patahan kulit bumi sepanjang 1600 kilometer dan bergeser sekitar 15 meter menghasilkan perubahan dasar laut yang mendadak dan memindahkan air laut dalam volume yang amat besar ke dalam rongga hasil tubrukan. Inilah yang mengakibatkan air laut sempat surut bermeter-meter dari garis pantai sebelum energinya terlepas dan bergulung kembali ke pesisir dengan kekuatan dan kecepatan yang amat dahsyat. Di laut dalam, gelombang bencana alam tsunami tak memiliki kekuatan yang besar, namun kecepatannya berakumulasi mencapai lebih dari 500-1000 km/jam! Hingga mencapai laut dangkal kecepatannya pun perlahan berkurang, namun kekuatan dan ketinggiannya bertambah secara drastis. Para peneliti bencana alam tsunami Aceh 2004 menyimpulkan bahwa rata-rata ketinggian air bah yang menghempas Aceh kala itu setinggi 24-30 meter ketika menyapu daratan!
Tsunami Society menyimpulkan bahwa total energi gelombang bencana alam tsunami Aceh 2004 setara dengan lima megatin TNT. Jumlah yang setara dengan dua kali lipat lebih besar daripada semua energi bahan peledak yang menghancurkan selama Perang Dunia II. (IJL)

Menyadari Ancaman Gempabumi di Indonesia

23.00 Add Comment

Rentetan kejadian gempa bumi datang silih berganti menggoyang ratusan wilayah di nusantara. Namun nampaknya catatan kejadian tersebut belum menjadi pelajaran berharga bagi segenap masyarakat. Ketika bencana alam gempa bumi melanda, masih ada saja kepanikan yang tak penting yang justru akan berakibat fatal. Bukti nyata bahwa mitigasi dan pengurangan risiko bencana belum menjadi pemikiran serius bagi masyarakat.
Padahal kesigapan sebelum bencana gempa bumi terbukti mampu meminimalkan jumlah kerugian harta benda hingga nyawa. Tengok saja bagaimana Jepang, negara dengan intensitas gempa yang amat rutin mampu menyiapkan masyarakatnya sedini mungkin dalam menghadapi gempa bumi. Pelajaran kesiapan bencana sudah menjadi kurikulum wajib di tiap bangku sekolah.
Tak dapat dipungkiri, tiga lempengan besar yang berada di bawah lapisan permukaan Nusantara menjadi momok menakutkan. Tiga lempeng yang terus bergerak aktif, saling bertubrukan dan menunjam satu sama lain membawa ancaman nyata bencana alam gempa bumi. Pergerakan lempeng memang pada dasarnya tak bisa diprediksi.  Terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan awal. Namun setidaknya, menyadari ancaman bencana gempa bumi merupakan tindakan penting yang sudah harus ditanamkan semenjak dini.
Lantas, pertanyaannya mengapa Indonesia belum mampu menyontoh sikap seperti demikian? Kesadaran akan ancaman bencana alam terutama gempa bumi harus menjadi prioritas demi menyelamatkan peradaban bangsa yang dibangun hingga kini. Nyawa manusia bukanlah hitungan angka statistik yang biasa tersaji di media usai bencana melanda. Kehilangan nyawa tak bisa dibiarkan begitu saja dengan membiarkan mitigasi bencana tak berjalan sesuai prosedur yang benar. Urgensi kesadaran akan ancaman bencana alam terutama gempa bumi tak bisa lagi diabaikan.
Melalui tiga pilar peradaban yang dilakukan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT): Hummanity, Volunteerism, dan Philantropy kesigapan akan ancaman bencana setidaknya sudah menjadi agenda utama. Nilai kemanusiaan, kerelawanan, dan kedermawanan yang menjadi tonggak gerakan ACT diharapkan mampu mengawal kesigapan masyarakat dalam menghadapi bencana alam.
Beradasarkan pada teori yang tersaji dalam sekian banyak literatur yang membincangkan bencana alam khususnya gempa bumi, alur pencegahan dan pengurangan risikonya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Prevention/mitigation
Tindakan awal dengan memberikan pendidikan dasar tentang pencegahan seputar pengetahuan bencana alam gempa bumi kepada lingkungan masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana
2.    Preparedness
Tindakan kedua beringsut seputar menyiapkan masyarakat agar siap dan tanggap dalam menghadapi ancaman bencana alam gempa bumi.
3.    Response
Tindakan ketiga, pasca bencana terjadi. Memberikan respons terbaik yang merata bebannya pada seluruh pemangku kepentingan. Melakukan koordinasi yang paling efektif
4.    Rehabilitation/reconstruction
Tindakan terakhir yang dapat dilakukan dengan mengembalikan kembali keadaan wilayah terdampak bencana alam gempa bumi seperti sebelum terjadinya bencana.
Sumber